Rabu, 04 Agustus 2010

Kulit Lembut dan Halus dengan Lidah Buaya dan Madu

Siapa yang tak kenal dengan bahan-bahan tersebut. Banyak sekali manfaat yang dihasilkannya baik untuk kesehatan ataupun untuk kecantikan. Bagi anda yang aktifitasnya berada di ruangan pendingin (Air Conditioner/AC) disetiap harinya sehingga kurang mendapat sinar matahari, bisa menyebabkan penuaan dini pada kulit seperti kulit menjadi kering atau keriput. *Ih serem... Sebelum hal itu terjadi pada diri anda, Nah tips yang  ini perlu dicobain dech dan juga ga bakalan nguras kantong anda.
Berikut yang anda perlu siapkan:
  • Siapkan lidah buaya secukupnya lalu kupas kulitnya dan ambil bagian dagingnya saja
  • Cuci bersih lidah buaya tersebut dan tiriskan
  • Campurkan madu kurang lebih 1 sendok makan
  • Kemudian usapkan bahan tersebut pada bagian tubuh anda seperti kaki dan tangan. 
  • Tunggulah sebentar hingga agak kering
  • Bilas kaki dan tangan sampai bersih
  • Lakukan 2x dalam seminggu dan Rasakan khasiatnya
  • Silahkan mencoba........

Jumat, 16 Juli 2010

Do u know? Siapa yang duluan Ayam atau Telur!

Sudah menjadi pertanyaan yang filosofis dan ilmiah antara ayam dan telur, siapa yang pertama duluan. Dahulu kala, waktu aku kecil pertanyaan itu selalu ada dibenak pikiranku sampai sekarang aku belum tahu jawabannya. Namun hari ini (15/7), setelah aku membaca berita di Liputan6.com terjawab sudah pertanyaan tersebut. Ehm.. pertanyaanya sich cukup simple mana yang lebih dulu diantara keduanya, akan tetapi membuat pusing jadinya jikalau tidak dibuktikan dengan uji ilmiah terlebih dahulu. Ternyata jawabannya adalah "Ayam". Berikut pemaparan beritanya:
Menurut laporan Mailonline, para peneliti menemukan pembentukan kulit telur bergantung satu protein yang hanya ditemukan di indung telur ayam. Maksudnya, telur hanya bisa ada jika berada di dalam ayam. Protein yang disebutovocledidin-17 (OC-17) bertindak sebagai katalis untuk mempercepat pengembangan kulit telur itu.
Cangkang keras penting sebagai tempat bagi kuning dan putih telur. Para ilmuwan dari universitas di Sheffield dan Warwick menggunakan super komputer untuk men-'zoom in' pembentukan telur. Komputer yang disebut HECToR itu mengungkapkan OC-17 penting dalam memulai kristalisasi atau tahap awal penciptaan kulit telur.
Protein tersebut mengubah kalsium karbonat menjadi kristal kalsit yang membentuk kulit telur. Kalsit kristal ada di berbagai tulang dan tempurung tetapi mereka terbentuk lebih cepat di dalam ayam. Unggas itu mampu menghasilkan enam gram kulit telur setiap 24 jam.
"Selama ini orang mengira yang lebih dulu ada adalah telur, tapi kini kita punya bukti ilmiah yang menunjukkan sebenarnya ayam yang lebih dulu ada," tuturan Dr Colin Freeman, dari Departemen Teknik Material Universitas Sheffield sambil menambahkan, "Ternyata, dengan memeriksanya secara jeli kita dapat melihat cara protein itu mengendalikan proses pembentukan kulit telur."
Profesor John Harding, dari jurusan yang sama di Sheffield, mengatakan  penemuan itu bisa berguna untuk hal lain. "Memahami cara ayam membuat kulit telur dapat memberi petunjuk menuju rancangan baru maupun bahan baru," katanya. Penemuan itu dipublikasikan dalam makalah "Structural Control Of Crystal Nuclei By An Eggshell Protein".

Kamis, 15 Juli 2010

Tips Mengurangi Bau Amis Ikan

Bila Anda hendak mengolah ikan tapi tidak suka bau amisnya yang bikin euh..mual atau enek perut, berikut cara mengatasi baunya itu:
  1. Bersihkan ikan dari segala macam kotoran yang menempel berikut insang yang ada dibagian kepalanya.
  2. Bila masih terdapat kotoran berwarna hitam gunakan dengan tissue dapur kering untuk membersihkanna, karena kotoran hitam itulah sumber dari amisnya ikan.
  3. Setelah bersih rendam dengan air perasan jeruk nipis selama kurang lebih 10 menit. Bila tidak ada jeruk nipis Anda bisa gunakan mentimun untuk menetralisir bau anyir tersebut. Mentimun tersebut ampuh juga untuk mengurangi bau amis ikan.
  4. Selamat mencoba.........

Rabu, 14 Juli 2010

Jenis-jenis Ukuran Kertas

Ukuran kertas secara Internasional terdapat seri A, B, dan C. Ukuran R dan F muncul sesuai permintaan pasar.Berikut ukuran-ukuran dari setiap seri dalam Milimeter.


Seri A
Seri A biasa digunakan untuk cetakan umum dan perkantoran serta penerbitan. Dasar ukuran adalah A0 yang luasnya setara dengan satu meter persegi. Setiap angka setelah huruf A menyatakan setengah ukuran dari angka sebelumnya.Jadi A1 adalah setengah dari A0 dan demikian seterusnya. ukuran yang paling banyak digunakan adalah A4.

A0841x1189
A1594x841
A2420x594
A3297x420
A4210x297
A5148x210
A6105x148
A774x105
A852x74
A937x52
A1026x37


Seri B

Seri B besarnya kira-kira di tengah antara 2 ukuran seri A, biasa digunakan untuk poster dan lukisan dinding
B01000X1414
B1707X1000
B2500X707
B3353X500
B4250X353
B5176X250
B6125X176
B788X125
B862X88
B944X62
B1031X44


Seri C

Seri C biasa digunakan untuk map, kartu post dan amplop
C0917X1297
C1648X917
C2458X648
C3324X458
C4229X324
C5162X229
C6114X162
C781X114
C857X81

Seri R
Seri R biasa digunakan untuk kertas jenis Foto untuk mencetak foto
2R60 x 90
3R89 x 127
4R102 x 152
5R127 x 178
6R152 x 203
8R203 x 254
8R Plus203 x 305
10R254 x 305
10R Plus254 x 381
11R279 x 356
11R Plus279 x 432
12R305 x 381
12R Plus305 x 465


Seri F

Seri F biasa digunakan untuk perkantoran dan fotocopy, biasa disebut kertas Folio
  • F4 = 210x330

Seri Kertas Lain
Ada beberapa ukuran lain yang terkadang memakai nama Inggris, diantaranya Letter (Kwarto) 215.9mm x 279.4mm, Legal 215.9 mm x 355.6 mm | A4+, A3+


Sabtu, 29 Mei 2010

Tips Menghapal Al-Qur'an

Sedikit berbagi ilmu bagaimana menghafal al-Qur'an dengan cepat. Berikut ini langkah-langkahnya:
1. Niat,tekadkan niatkan kita secara mantap bahwa anda bersungguh-sungguh akan menghafal al-Qur'an, ucapkan pada diri sendiri "Menghapal al-Qur'an itu mudah". Jikalau tidak pasti banyak godaan yang menghadang, ya maklumlah ada saja yang syirik dibelakang itu (syeitan). Banyak cara untuk menghalangi hamba Allah bertawadhu kepada sang khalik.
2. Tajwid, kaidah tajwidnya harus dipelajari dahulu sampai paham betul.
3. Dimulai secara tartil, maksudnya apa yang kita hafal itu harus benar-benar diperhatikan secara detail mulai dari tanda jeda, waqofnya dan lain sebagainya hampir sama dalam kaidah bahasa indonesia saja.
4. Teknis menghafal:
 Qiraat bin nazar (secara melihat) dan qiraat bin ghaid (tak melihat), maksudnya dalam menghafal, kita benar-benar memperhatikan dengan tadabur (dihayati) apa yang kita lihat kemudian dihafalkan sampai betul-betul hafal hingga tak melihat teks lagi baik artinya maupun tulisannya. Bila lupa usahakan jangan sampai membuka al-Qur’an itu, ingat-ingat terlebih dahulu kalupun sudah mentok baru boleh melihat teks atau kalimat al-Qur’an tersebut, setelah itu bila sudah hafal barulah menghafal secara tidak melihat al-Qur’an lagi.
 Taqirur karniah (Sedikit menghafal), jangan terlalu banyak hafalan yang penting sedikit menghafal tapi tak mengulang lagi. Karena, biasanya sudah hafal ingin menambah hafalannya hingga hafalan yang terdahulu jadi terlupakan. Bila sudah demikian akan susah untuk mengulangnya kembali.
 Iktiqrar (mengulang), ingat-ingat kembali apa yang telah dihafal sampai matang.
Tahapan dalam menghafal:
1. Hafalan Baru, waktu yang tepat ialah pada pagi hari ba’da shalat subuh.
2. Mengulang, setelah hafal betul ulangi hafalan tersebut sampai mantap. Waktunya bisa disesuaikan dengan scedule kita umpanya ba’da Ashar.
3. Mengulang yang lama, ulangi kembali hafalan kita agar tak terlupakan kembali, ingat bila sudah lupa sulit untuk menghafalnya kembali. Jangan pernah menambah hafalan baru kita bila hafalan yang lama belum tuntas atau hafal secara mantap.

Catatan Penting:
 Harus konsisten dalam menyetor hafalan, cari orang yang mau menerima setoran hafalan kita dengan disiplin.
 Targetkan hafalan kita, misalnya targetnya 2 tahun setengah berarti setiap hari kita harus menghafal 1 halaman.
 Ambil waktu emergency, khawatir kita sakit ataupun terjadi sesuatu hal yang menimpa kita, misal pada hari minggu.
 Dibuat secara alami, jangan terlalu dipusingkan dengan hal tersebut yang terpenting kuncinya adalah disiplin dalam menghafal.
 Jadikan hafalan itu sebagai wirdud tilawah (wirid tilawah al-Qur’an) misalnya sehabis shalat 1 lembar.
 Cari al-Qur’an pojokan atau setiap akhir baris pasti berhenti.

Rabu, 28 April 2010

ALL ABOUT EINSTEIN



Einstein's father

Einstein's mother

House of Einstein

Einstein's childhood photo

School class photograph in Munich , 1889. Einstein is in the front row, second from right. He did well only in mathematics and in Latin (whose logic he admired).

Was Einstein's Brain Different?

Of course it was-people's brains are as different as their faces. In his lifetime many wondered if there was anything especially different in Einstein's. He insisted that on his death his brain be made available for research. When Einstein died in 1955, pathologist Thomas Harvey quickly preserved the brain and made samples and sections. He reported that he could see nothing unusual. The variations were within the range of normal human variations. There the matter rested until 1999. Inspecting samples that Harvey had carefully preserved, Sandra F. Witelson and colleagues discovered that Einstein's brain lacked a particular small wrinkle (the parietal operculum) that most people have. Perhaps in compensation, other regions on each side were a bit enlarged-the inferior parietal lobes. These regions are known to have something to do with visual imagery and mathematical thinking. Thus Einstein was apparently better equipped than most people for a certain type of thinking. Yet others of his day were probably at least as well equipped-Henri Poincaré and David Hilbert, for example, were formidable visual and mathematical thinkers, both were on the trail of relativity, yet Einstein got far ahead of them. What he did with his brain depended on the nurturing of family and friends, a solid German and Swiss education, and his own bold personality.

A late bloomer: Even at the age of nine Einstein spoke hesitantly, and his parents feared that he was below average intelligence. Did he have a learning or personality disability (such as "Asperger's syndrome," a mild form of autism)? There is not enough historical evidence to say. Probably Albert was simply a thoughtful and somewhat shy child. If he had some difficulties in school, the problem was probably resistance to the authoritarian German teachers, perhaps compounded by the awkward situation of a Jewish boy in a Catholic school.


Einstein in the Bern patent office


Einstein when his light bending theory conformed


Einstein in Berlin with political figures


Einstein in a Berlin synagogue in 1930, playing his violin for a charity concert.



The Solvay Congress of 1927


E = MC^2




POSTWAR SIGNING


Einstein in his study in his home in Berlin, 1919.


Einstein at his home in Princeton, New Jersey


signature of the legend