Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

IBNU SAYYAR AL-WARAQ

~~TOP CHEF DARI BAGHDAD~~

Berbicara soal kuliner ada satu sosok yang tersohor pada masa abad pertengahan Islam di Ibukota Baghdad, Irak yaitu siapa lagi kalau bukan Ibnu Sayyar al-Waraq. Ia dikenal dengan julukan al-waraq yang banyak membukukan resep-resep hasil karyanya dalam sebuah buku yang berjudul Kitab at-Tabikh wa Islah al-Aqhdiyah al-Ma’kulat.
Tidak banyak riwayat yang menjabarkan sosok ini. Namun diketahui ia meninggal dunia pada 961 M. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di ibu kota Baghdad. Keahliannya dalam bidang masak-memasak menjadikan Ibnu Sayyar dipercaya sebagai koki di Istana. Ia banyak bereksperimen dalam menciptakan resep baru atau memperkaya cita raya dan aroma dari masakan yang telah ada.
Pada suatu hari, Saif al-Dawlah al-Hamdani, seorang bangsawan dari Aleppo, Suriah, memintanya menyusun sebuah buku masakan. Tak hanya berisi resep-resep buatannya, akan tetapi mencakup beragam aspek tradisi kuliner Islam. Hingga akhirnya, muncullah kitab at-Tabikh.
Buku yang ditulis pada 950 M ini berisi aneka masakan dan minuman dibahas secara detail. Dari menu daging panggang, kue, telur, sayuran, saus, pasta, gorengan, pudding, minuman panas, susu, hingga buah-buahan. Begitu pula bagian yang khusus mengupas bumbu, bahan masakan, aroma masakan, dan teknik memasak. Ia pun mengenalkan adab di meja makan serta mempersiapkan jamuan dan perlengkapan dapur. Sehingga banyak kalangan yang menjadikan buku tersebut sebagai sumber rujukan masakan dari abad ke-9 hingga ke-10 M.
Menurut Ibnu Sayyar yang lebih penting ditekankan adalah setiap masakan yang dibuat harus sesuai dengan kriteria sebagai makanan yang sehat dan halal serta sesuai tuntunan agama Islam. Ibnu Sayyar mengatakan, sebelum memasak hendaknya memperhatikan perkataan ahli gizi dan kesehatan. Hal ini dilakukan agar masakan yang kelak dihidangkan mengandung nilai gizi tinggi. Di samping itu, hal yang harus dipenuhi adalah jaminan kehalalan bahan makanan yang digunakan.
Penerjemah Kitab at-Tabikh, Nawal Nasrallah mengatakan, manuskrip ini merupakan kitab resep masakan paling komprehensif. Dalam buku setebal 455 halaman itu, terdapat sekitar 600 resep masakan. Menurutnya deretan resep tersebut menjadi bukti kegemilangan tradisi kuliner di dunia Islam.
Buku Ibnu Sayyar tak hanya bermanfaat untuk mengetahui warisan kuliner umat Islam. Melalui buku ini, diketahi pula kondisi sosial ekonomi masyarakat pada era itu, demikian uraian sejarawan Barat, Peter Heine.
Jurnal ini menyebut bahwa Ibnu Sayyar berhasil menjelaskan secara perinci aspek masakan pada masa kekhalifahan. Mulai dari perspektif budaya, bahasa, sejarah, sampai medis. Jeanine Young-Mason dalam jurnal Nursing and the Arts mengatakan, buku Ibnu Sayyar juga melestarikan konsep makanan sebagai penyembuh dari ilmuwan Yunani, Galen.
Buku ini diterbitkan dalam versi aslinya dan dimuat di Studia Orientalia Volume 60 dengan editor Kaj Ohrnberg dan Sahban Mroueh. Charles Perry dai Universitas Princeton menerjemahkan beberapa bab buku itu ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1980-an. Menurut dia, keseluruhan karya ini terdiri atas tiga manuskrip.

Sumber: Republika,Jum’at 8 Oktober 2010 hal.24

Senin, 14 Maret 2011

MAHA GURU KEDOKTERAN DUNIA

IBNU SINA (Avicenna)
980-1037 M / 370 - 428 H


Abu Ali al-Husain ibn Abdullan ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina, yang lebih dikenal dengan sebutan ”Avicenna” oleh masyarakat barat. Dia adalah salah seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Dia lah pembuat ensiklopedi terkemuka dan pakar dalam bidang Kedokteran, Filsafat, Logika, Matematika, Astronomi, Musik, dan Puisi.
Beliau dilahirkan pada tahun 370 Hijriah 980 M di Afshana, yaitu sebuah desa yang terletak dengan Bukhara (Republik Uzbekistan). Ayahnya, Abdullah adalah seorang Gubernur Samanite yang kemudian ditugaskan di Bukhara. Sejak kecil ia telah memperlihatkan intelegensinya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan. Ia telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun. Ia adalah seorang sangat tekun dalam menimba ilmu. Berkat kecerdasan dan kesungguhan yang luar biasa, dalam usia 17 tahun ia berhasil menjadi Filosof dan Dokter terkemuka di Bukhara.
Pada usia ang relatif muda, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan Nuh ibn Mansur, seorang raja di Bukhara. Dalam proses penyembuhan tersebut, Raja Ibnu Mansur berkeinginan memberi Ibnu Sina hadiah, Ibnu Sina tak berhasrat pada harta benda yang ditawarkan sang raja hanya menginginkan perpustakaan yang ada di Istana. Sang raja mengangkatnya sebagai dokter istana. Sejak saat itu Ibnu Sina sering mengobati para penguasa di daratan Jaziarah Arab dan sekitarnya.
Pada usia 21 tahun, ketika berada di Khawarazm, ia mulai menulis karyanya yang pertama yang berjudul Al-Majmu yang mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap. Kemudian ia melanjutkan menulis buku-buku lain. Buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina, dihimpun dalam satu buku besar yang berjudul Essai de Bibliographi Abvicenna yang ditulis oleh Pater Dominican di Kairo.
Teori-teori anatomi dan fisiolog dalam buku-buku beliau menggambarkan analogi manusia terhadap negara, dan mikrokosmos (dunia keci) terhadap alam semesta sebagai makrokosmos (dunia besar). Misalnya digambarakan bahwa hati adalah ”pangerannya” tubuh manusia, sementara paru-paru adalah ”menterinya”. Leher merupakan ”jendelanya” badan, manakala kandung empedu sebagai ”markas pusatnya”. Limpa dan perut sebagai ”bumbung” sedangkan usus merupakan sistem komunikasi dan sistem pembuangan.
Buku karangannya al-Qanun Fit-Thibb (Canon of Medicine) memuat pernyataan yang tegas bahwa ”darah menglir secara terus-menerus dalam suatu lingkaran dan tak pernah berhenti”. Namun ini belum dapat dianggap sebagai suatu penemuan tentang sirkulasi darah, karena bangsa Cina tidak membedakan antara urat-urat darah halus (Vena) dengan pembuluh nadi (arteri). Analogi tersebut hanyalah analogi yang digambarkan antara gerakan darah dan siklus alam semesta, pergantian musim dan gerakan-gerakan tubuh tanpa peragaan secara emperik pada keadaan yang sebenarnya. Buku ini sejak zaman dinasti Han di Cina telah menjadi rujukan standar karya-karya medis Cina.
Buku ini terdiri dari 14 jilid dan telah dianggap sebagai himpunan perbendaharaan ilmu kedokteran.
Ilmu kedokteran modern banyak mendapat pelajaran dari Ibnu Sina, dari segi penggunaan obat, diagnosis dan pembedahan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis yang menjadikan rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke-17).
Pada abad ke-12 M Gerad Cremona yang berpindah ke Toledo, Spanyol telah menerjemahkan buku Ibnu Sina kebahasa Latin. Buku ini menjadi buku rujukan utama di universitas-universitas Eropa hingga 1500 M. Bukunya telah disalin (cetak) sebanyak 16 kali dalam bahasa Latin 15 edisi dan sebuah edisi dalam bahasa Yahudi (Hebrew). Di samping itu, buku tersebut rurut diterjemahkan kedalam bahasa Inggirs, Prancis, Spanyol, dan Italia. Pada abad ke-16 M, buku ini dicetak 21 kali.
Al-Qanun Fit-Thibb juga digunakan sebagai buku teks kedokteran di berbagai universitas di Prancis. Misalnya di Sekolah Tinggi Kedokteran Montpellier dan Louvin yang telah menggunakanyya sebagai bahan rujukan pada abad ke-17 M. Sementara itu, Prof. Philip K. Hitti telah menganggap buku tersebut sebagai “Ensiklopedia Kedokteran”.
Al-Qanun Fit-Thibb telah membincangkan serta membahas tentang penyakit saraf. Buku tersebut juga membahas tentang cara-cara pembedahan yang menekankan tentang keperluan pembersihan luka. Bahkan di dalam buku-buku tersebut jgua dinyatakan keterangan dengan lebih jelas di samping hiasan gambar-gambar dan sektsa-sketsa yang sekaligus menunjukkan pengetahuan anatomi Ibnu Sina ang luas.
Penulis-penulis barat telah menganggap Ibnu Sina sebagai “Bapak Kedokteran” karena ia talah memadukan teori kedokteran Tunani Hipocrates dan Galen dan pengalaman dari ahli-ahli kedokteran dari India dan Parsi serta pengalaman beliau sendiri.
Beliau telah menghasilkan karya 250 buah karya dan masih dipakai sampai saat ini, 116 buah karyanya membahas bidang Ilmu Kedokteran. Banyak karyanya ditulis dalam bahasa Arab dan juga bebarapa dalam bahasa parsi.
Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073 karena penyakit Maag, saat kembali ke kota yang disukainya, Hamadhan. Walu ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia.

KARYA-KARYA IBNU SINA
  1. Kitab al-Majmu, tentang ilmu pengetahuan yang lengkap
  2. Kitab asy-Syifa’ (The Book of Recovery/The Book of Remedy), tentang pengobatan
  3. Kitab al-Qanun Fit-Thibb, tentang cara pengobatan yang sistematis
  4. Kitab Remedies for the Heart, berisi tentang sajak-sajak
  5. Kitab an-Najah, tentang filsafaf
  6. Penemuan tentang anatomi tubuh
  7. Penemuan tentang pengobatan psikosomatik
  8. Penemuan di bidang kimia tentang logam
  9. Penemuan di bidang geografi tentang asal muasal lembah
  10. Penemuan tentang peredaran darah
  11. Kitab Fi Aqsamil Ulumil Aqliya (On the Devision of the Rational Sciences) tentang pembagian ilmu-ilmu rasional
  12. Kitab an-Nayat (Book of Deliverence), tentang kebahagiaan jiwa
  13. Kitab Risalah as-Siyasah (Book of Politics),tentang politik
  14. Penemuan di bidang Materi Media
  15. Penemuan di bidang psikoterapi
  16. Kitab al-Musiqa, tentang logika
  17. Kitab al-Mantiq, tentang logika
  18. Kitab Uyun al-Hikmah, tentang filsafat
  19. Kitab al-Hilmah el-Masyriqiyyin, tentang filsafat timur
  20. Kitab al-Insyaf tentang keadilan sejati
  21. Kitab al-Isyarat wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan keagamaan
  22. Kitab Isaguji (The Isagoge) tentang logika
  23. Kitab Fi ad-Din (Liber de Mineralibus) tentang mineral
  24. Kitab al-Qasidah al-Aniyyah tentang prosa
  25. Kitab Sadidiya tentang kedokteran
  26. Kitab Risalah at-Thayr tentang roman fiktif
  27. Kitab Danesh Nameh, tentang filsafat
  28. Kitab Mujiz Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap

Source:
Ibnu Sina; penulis, NIN Studio, penyunting, Tim GIP-Cet.1--Jakarta: Gema Insani Press 2006
Latif,Abdul. Hidayatullah. 2005. Pejuang dan Pemikir Islam Dari Masa ke Masa. Jakarta: Iqra Insan Press. 

Minggu, 30 Januari 2011

Jabir Ibn Hayyan - Bapak Kimia Modern


Nama lengkapnya adalah Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tersebut. Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya seorang penjual obay, meninggal demi penyebaran ajaran Syi’ah. Jabir kecil menerima pendidikannya Imam Syi’ah Ja’far Shadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyyah pimpinan Harun Al-Rasyid.

Penemuan ilmu kimia oleh Ibn Hayyan ini membuktikan bahwa ulama di masa lalu sudah lebih dulu mengenal dan menguasai ilmu-ilmu umum. ”Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia,” tutur sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.

Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia-termasuk kitabnya yang termasyhur, yaitu Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahann Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Compositon of Alchemy. Buku kedua (Kitab Al-Sab’een) diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan Judul Summa of Perfection.

Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Ricard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern. Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al-Rahmah, Kitab al-Tajmi, al-Zilaq al-Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (diterjemahkan oleh Berthelot).

Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Suatu kebiasannya adalah mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan, ”Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalah yang mungkin masih terpendam.”

Dari damaskus ia kemudian kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya terdapat peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat. Jabir Ibn Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua itu ia telah siapkan tekniknya, praktis hampri semua technique kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Salah satu terobosan Jabir dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Itulah mengapa Jabir diberi gelar kehormatan sebagai ’Bapak Ilmu Kima Modern’ oleh sejawatnya di seluruh dunia., dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabin Ibn Hayyan.

Jabir mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenal arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diteapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik.

Di antara karyanya yang terkenal adalah al-Hikmah al-Falsafiyah, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin Summa Perfection, ia menyatakan reaksi kimia adalah, ”Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tapi masing-masing mempertahankan karakteristik alaminya. Kedua unsur itu berinteraksi dan bercampur sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya. Jika ingin memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya dalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.”

Ide-ide eksperiman itu sekarang dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur kiia, utamnya metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya, yaituk; 1) Air (spirits), merupakan yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida. 2) Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi. 3) Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.

Weh. . weh. . weh. . canggih pisan euy, ru macana tos keliengan apalagi praktekna, hehehe. Ten Finger dech buat om Jabir Ibn Hayyan.

Sumber: Majalah Puteri ed.04 Januari 2004 hal.84-85